Bambu Menghidupi Desa Belega
Bambu di mana-mana. Begitulah kesan yang muncul ketika memasuki Desa Belega, sebuah desa kecil di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar. Toko-toko kerajinan, mebel dan furnitur dari bambu, menjadi pemandangan yang mengakrabi sepanjang jalan desa. Lalu lalang masyarakat desa membawa bambu menjadi pemandangan yang biasa. Bambu merupakan nafas kehidupan di Desa Belega. Setidaknya itulah yang dirasakan Made Wijaya (42 tahun). Bambu
sudah menjadi tumpuan hidup Wijaya dan keluarganya sejak puluhan tahun lalu. Ia meneruskan usaha warisan kakeknya almarhum I Wayan Jarsa atau biasa dikenal sebagai Pak Mangku yang dirintis sejak tahun 1970-an. “Saya hidup dari bambu. Sejak kecil saya dibesarkan dari usaha bambu,” tegas Wijaya. Ia merupakan penerus generasi ketiga dari usaha bambunya. Sang kakek, I Wayan Jarsa, menjadi salah satu perintis sentra industri bambu di Desa Belega. Ketika itu, Jarsa bersama tiga orang tetangganya berkreasi dengan bambu yang banyak tumbuh di desa mereka. Usaha mereka ternyata mendapat respon yang baik dari wisatawan asing yang ketika itu banyak datang ke Desa Bone, desa tetangga, yang ketika itu ramai dikunjungi wisatawan asing untuk menyaksikan pertunjukkan tari tradisional kecak. Respon yang baik dari wisatawan, membuat mereka terus berkreasi dengan bambu. Mereka bahkan berburu pengalaman mengkreasikan bambu hingga ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, dua daerah yang telah sukses mengembangkan bambu. Usaha itu tak sia-sia. Mengolah bambu dan berkreasi dengan tanaman jenis rumput raksasa itu menjadi virus yang menyebar cepat di kalangan warga Desa Belega. Warga Desa Belega yang sehari-hari menjadi petani, memiliki aktivitas tambahan yang menghasilkan rupiah lumayan. Pada masa keemasannya di tahun 80-an hingga 90-an, hampir seluruh penduduk sekitar Belega yang berjumlah tidak lebih dari 10.000 kepala keluarga itu piawai sebagai perajin bamboo, baik pria maupun wanita. Pesanan ekspor pun berdatangan ke Belega. Pesanan datang dari berbagai negara seperti Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Kerajinan bambu Belega dikenal hingga ke mancanegara karena kerapihannya. Sepintas, bentuk dan model mebel bambu Belega memang tidak berbeda dengan buatan Jawa Tengah dan Yogyakarta.






