<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Money &#38; You Magazine,... Satu-satunya Majalah di Bali yang Mengupas seputar Keuangan, Bisnis, Investasi dan Perbankan.</title>
	<atom:link href="http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.moneynyoumagazine.com</link>
	<description>Bisnis, Perbankan dan Investasi</description>
	<lastBuildDate>Tue, 02 Feb 2010 06:26:21 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>The Fall of USD</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/the-fall-of-usd/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/the-fall-of-usd/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 06:11:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Special Feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=92</guid>
		<description><![CDATA[An Economic Common Sense ( Part 1 )
Oleh : Alex P Chandra

Baru-baru ini, ketika sedang mengikuti MarkPlus Marketing Conference di Jakarta, saya dihubungi oleh  teman saya, Pak Ismoyo yang menjabat sebagai ketua Bali Vila Association. Pak Ismoyo meminta saya bicara di depan anggotanya dengan topik sederhana, kemana kira-kira arah nilai mata uang USD pada tahun [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>An Economic Common Sense </strong>( Part 1 )<br />
Oleh : Alex P Chandra<br />
</em></p>
<p>Baru-baru ini, ketika sedang mengikuti MarkPlus Marketing Conference di Jakarta, saya dihubungi oleh  teman saya, Pak Ismoyo yang menjabat sebagai ketua Bali Vila Association. Pak Ismoyo meminta saya bicara di depan anggotanya dengan topik sederhana, kemana kira-kira arah nilai mata uang USD pada tahun 2010? Sebenarnya pertanyaan klasik seperti ini sudah sering diajukan kepada saya. Hampir setiap terjadi gejolak pasar, nasabahnasabah saya (BPR Lestari red.), teman-teman saya selalu menanyakan hal yang serupa, akankah nilai USD akan turun atau sebaliknya. Setiap kali diajukan pertanyaan demikian, tanggapan saya akan selalu sama, “jika anda bertanya kepada saya, kepada siapa saya bisa bertanya? Dengan kata lain, saya pun tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang tahu pasti arah nilai USD. Saya selalu meragukan pendapat segelintir orang yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat nilai<br />
USD akan dibawa mencapai nilai Rp. 13.000,-. Siapa yang membawanya? Dan bagaimana caranya? Namun memang ada beberapa kecenderungan yang menarik untuk diamati. Akhir tahun lalu, di penghujung 2008, di puncaknya krisis keuangan global, rupiah terpuruk. Banyak nasabah saya yang mencairkan depositonya untuk berspekulasi membeli dollar Amerika. Pada saat itu, saya mengatakan bahwa saya tetap memegang rupiah. Menurut saya, tidak ada alasan yang logis yang dapat membuat nilai rupiah terpuruk kecuali arus balik modal yang pulang kampung. Setelah arus mudik modal tadi selesai, maka secara otomatis nilai rupiah akan menguat lagi. Secara kebetulan, apa yang saya prediksikan terbukti. Oleh sebab itu, Pak Ismoyo meminta saya kembali memprediksikan nilai tukar mata uang USD terhadap nilai rupiah pada tahun<br />
2010. Dalam rangka menyiapkan presentasi di hadapan anggota Bali Villa Association inilah kemudian saya melakukan riset kecil-kecilan. Bisa saya katakan tidak terlalu ilmiah, hanya mencari dan mengumpulkan data-data dari sumber yang dapat dipercaya. Kemudian saya coba untuk menggabungkan satu sama lain dengan akal sehat sampai saya dapat menarik beberapa kesimpulan. Oleh karena itu, saya beri sub-judul wacana saya, <em><strong>“An Economic Common Sense”</strong></em> (baca: ekonomi yang masuk akal). Kali ini, saya melihat tanda-tanda yang sangat jelas. Seluruh akal sehat saya mendukung suatu kesimpulan dan untuk pertama kalinya saya meneguhkan pendirian yang jelas. Saya akan memihak nilai rupiah, bahkan saya justru memprediksikan bahwa nilai mata uang USD akan jatuh. Itu salah satu alasan mengapa saya memberi judul “The Fall of USD” (baca: jatuhnya nilai mata uang USD), judul yang saya rasa cukup kontroversial untuk anda terima.</p>
<p><span id="more-92"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/uang-mengecil.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-93" title="uang-mengecil" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/uang-mengecil.jpg" alt="" width="330" height="423" /></a><em><strong>1971 – The rules of the game had changed</strong></em><br />
Berawal pada tahun 1971, ketika Presiden Nixon keluar dari kesepakatan Brentton Wood’s yang menghubungkan nilai mata uang USD dengan emas. Isi kesepakatan Brentton Woods menyatakan setiap nilai USD yang dicetak oleh FED harus didukung dengan sejumlah emas yang cukup. Sehingga pada saat itu nilai USD setara dengan nilai emas. Sedangkan untuk mata uang dunia lainnya, jika tidak<br />
dihubungkan dengan emas, harus dihubungkan dengan nilai USD. Maka secara implisit sebelum tahun 1971, peraturan ini mengatakan bahwa sebuah negara dilarang untuk mencetak uang seenaknya. Jika tidak memiliki dukungan baik berupa emas atau pun nilai USD, maka nilai uang negara tersebut tidak ada harganya.</p>
<p>Sejak tahun 1971, ketika Nixon melepaskan nilai USD dengan emas, nilai USD tidak bisa lagi ditukar dengan emas. Dengan kata lain, nilai USD tidak lagi setara dengan nilai emas. Nilai USD tidak lagi memiliki real value (baca: nilai sebenarnya), melainkan hanya janji bayar (atau hutang) dari Pemerintah Amerika Serikat. Demikian juga yang terjadi dengan semua nilai tukar mata uang di dunia. Uang tidak lagi memiliki real value melainkan janji bayar (atau hutang) dari pemerintah yang mengeluarkan mata uang tersebut. Nilainya tergantung pada kredibilitas masing-masing pemerintah. Jika pemerintahannya dipersepsikan bagus, perekonomiannya stabil, maka nilai tukarnya pun menjadi kuat dan begitu pula sebaliknya.<br />
Jadi, dapat disimpulkan bahwa peraturan permainan telah berubah. Uang yang kita miliki adalah instrumen hutang. Hutang dari pemerintah yang mengeluarkannnya. Artinya bahwa pemerintah melalui bank sentralnya boleh mencetak uang sesuai kehendaknya tanpa perlu lagi menyediakan emas. Sepanjang orang-orang percaya akan janjinya untuk membayar, uang tersebut mempunyai nilai.</p>
<p><em><strong>Bubble Economic</strong></em><br />
Di Amerika sepanjang tahun 1971 sampai dengan 2007 terjadi gunjangan terhebat sepanjang sejarah. Namun krisis 2007 (khususnya pada krisis hutang hipotek) terjadi ketika perusahaan pembiayaan rumah American Home Mortgage menyatakan diri bangkrut. Hal ini menunjukkan bahwa gunjangan tersebut lebih disebabkan oleh hutang. Banyak orang yang mendadak menjadi kaya karena inflasi bukan karena produksi. Kemajuan Amerika pun disebabkan oleh hutangnya (dengan cara meminjam) bukan semata karena produksinya. Ilustrasi situasi di atas kurang lebih seperti ini; untuk mendorong perekonomian negara, pemerintah membanjiri perekonomian dengan likuiditas. Nilai bunga diturunkan, kredit dibuat berlimpah. Daya beli masyarakat dipompa dengan kredit bunga rendah. Yang sebelumnya tidak mampu membeli rumah menjadi mampu, yang semula hanya memiliki satu mobil menjadi dua dan tiga, dan seterusnya.</p>
<p>Semua orang berubah menjadi semakin ‘kaya’. Coba anda bayangkan ketika seseorang dengan pendapatan  Rp. 10.000.000,- per bulan, sebenarnya ia hanya mampu belanja maksimal Rp. 10.000.000,-. Akan tetapi, jika yang bersangkutan memiliki kartu kredit dengan batas kredit Rp. 10.000.000,- maka daya beli orang tersebut akan berubah menjadi dua kali lipat. Bayangkan lagi jika ia memiliki 5 kartu kredit, maka secara otomatis daya beli pun meningkat menjadi Rp. 60.000.000,-, enam kali lipat dari kemampuan sebenarnya. Pola seperti ini saya rasa sangat lumrah di masyarakat Indonesia sekarang.</p>
<p>Krisis di Amerika ditunjukkan dengan data bahwa di tahun 1952 disposable income (baca: pendapatan yang bisa dikeluarkan) setiap rumah tangga di Amerika adalah 40%. Artinya pembayaran cicilan hutang adalah 40% dibandingkan dengan pendapatannya. Sedangkan di tahun 2007, data yang sama menunjukkan bahwa disposable income-nya mencapai 133%. Artinya seluruh pendapatannya sudah tidak mampu membayar hutang. Dengan kata lain, hutang dibayar dengan hutang lagi. Gali lubang tutup<br />
lubang. Pada tahun 2007, Amerika memiliki 2,56 billion USD hutang konsumen yang terdiri dari hutang kartu kredit, hutang mobil, hutang rumah, hutang jalan-jalan dan lain sebagainya. Jika nilai hutang tersebut ditukar dengan mata uang rupiah (contoh dengan standar nilai tukar 1 USD=Rp.10.000,-) hasilnya senilai dengan Rp. 2,560,000,000,000,000,- atau Rp. 2.560 Trilliun. (Bandingkan dengan catatan bail out Bank Century sebesar Rp. 6,7 Triliun, Obligasi Rekap Bank- Bank di Indonesia sebesar Rp. 500 Trilliun).</p>
<p><em><strong>When the Bubble Goes Away</strong></em><br />
Membicarakan masalah bubble (baca: gelembung atau busa), seperti halnya membuka sebotol minuman bersoda, busanya akan melimpah meluap keluar dari gelas. Namun, ketika busanya hilang, mungkin gelas anda hanya akan terisi separuhnya saja. Itulah yang terjadi dengan situasi ekonomi di tahun 2008.</p>
<p>Krisis atau lebih tepat disebut koreksi atas perekonomian Amerika dipicu oleh kegagalan bayar para debitor perumahan. Krisis sebenarnya sudah dimulai pada tahun 2007, ketika sebuah perusahaan pembiayaan besar American Home Mortgage menyatakan diri bangkrut. Para peminjam yang sebenarnya tidak layak diberi pinjaman ini (atau subprime mortgager) mulai gagal bayar sehingga muncul efek domino. Dipenghujung tahun 2008, dunia dikejutkan dengan bangkrutnya Lehman Brothers, sebuah perusahaan investasi (investment bank) yang berusia ratusan tahun. Krisis pun mulai melanda hampir di seluruh belahan dunia. Gelembung pun perlahan mulai hilang.</p>
<p><em><strong>The Rescue</strong></em><br />
Keputusan pemerintahan George Bush untuk tidak menyelamatkan (bail out) Lehman Brother ternyata berakibat fatal. Pasar Modal terjungkir, perekonomian dunia mulai goyah, tingkat kepercayaan menurun dan ekonomi Amerika tidak lagi mumpuni.<br />
Belajar dari pengalaman tadi, dikucurkanlah program penyelamatan. Paket penyelamatan senilai 700 Milyar USD untuk diinjeksikan ke perekonomian dalam berbagai bentuk. Dana ini digunakan untuk menyelamatkan raksasa-raksasa keuangan seperti Citigroup, AIG, Fannie Mae &amp; Freddy Mac, JP Morgan dan seterusnya. Jika tidak diselamatkan kekacauan mungkin akan menjadi tidak terkendali. Bagaimana proses terjadinya bail-out tidak akan saya ceritakan, karena panjang dan mungkin akan jadi satu topik tersendiri (mungkin judulnya akan menjadi “When The Banks Falls”). Secara total di seluruh dunia estimasi kerugian yang diderita akibat krisis ini mencapai 60 trilliun USD. Ini misalnya akibat seseorang yang memegang surat hutang Lehman Brother tiba-tiba surat hutangnya menjadi tidak bisa dibayarkan. Atau seseorang yang memegang saham BUMI yang dibeli dengan harga Rp. 8.000,- kemudian harganya tinggal Rp. 500,- dan sebagainya.</p>
<p><em><strong>60 Triliun USD Losses But the Money Is Not Gone</strong></em><br />
Dengan total kerugian sebesar 60 triliun USD, sebenarnya uang tidak hilang. Ada yang rugi (yang membeli saham BUMI sebesar Rp. 8.000,-), namun disisi lain ada yang diuntungkan (yang menjual saham BUMI di level harga Rp. 8.000,-). Jadi, nilai kerugian 60 triliun USD tidak hilang sama sekali, hanya berpindah tempat (kepemilikan). Model penyelamatan (bail-out) yang dilakukan oleh Amerika ditiru oleh hampir semua negara; Inggris, Jerman, Jepang, Indonesia (dalam skala yang kecil, Bank Century). Diperkirakan ada 10 triliun USD yang diinjeksikan oleh seluruh bank sentral selama krisis. Di Amerika sendiri, paketnya mencapai USD 700 Millar.</p>
<p><em><strong>What Is Bail Out Exactly?</strong></em><br />
Prinsip proses bail-out adalah menyuntikkan dana kepada bank-bank bermasalah. Baik berupa modal ataupun pinjaman sementara. Suntikan modal dan pinjaman ini digunakan oleh bank-bank tersebut untuk menambal kerugiannya, sehingga bank menjadi sehat kembali dan bisa beroperasi secara normal. Pertanyaannya adalah dari mana uangnya? Walaupun jalannya bisa memutar pada prinsipnya uang bail out datang dari dua sumber; pertama adalah dengan mencetak uang (print money), kedua adalah dengan meminjamkan uang yang tidak dimilikinya. Sumber lain yaitu dengan memperlambat perekonomian yang seharusnya terus<br />
digenjot. Setelah 1971, tidak ada peraturan ketat bagi suatu negara untuk tidak mencetak uang. Grafik di bawah ini mungkin bisa menjelaskan apa yang terjadi di Amerika saat ini. Dari grafik tersebut di atas, bisa kita lihat bahwa sejak didirikannya Federal Reserve Bank pada tahun 1913 sampai dengan 2007, FED sudah mencetak uang sebanyak 825 miliar USD. Perhatikan grafik sejak tahun 1971 ketika Presiden Nixon melepas USD dari dollar. Jumlah uang yang beredar meningkat tajam. Ingat bahwa economic boom (baca: gunjangan ekonomi) di Amerika ternyata disebabkan oleh hutang dan banyak orang yang menjadi kaya karena inflasi. Banyak miliuner baru di Amerika yang disebabkan harga propertinya naik drastis dan kemudian menggunakan kenaikan harga propertinya sebagai equity (baca: hak).</p>
<p>menurut keadilan, kewajaran) untuk membeli rumah kedua dan seterusnya. Yang menarik dari grafik di atas adalah bahwa sejak tahun 2007 (ketika krisis dimulai) kenaikan jumlah uang yang beredar naik eksponensial. Jika selama 94 tahun FED mencetak 825 Miliar USD, hanya dalam 2 tahun saja (2007-2009) FED menambah jumlahnya hampir dua kali lipat menjadi 1,700 Miliar USD.<br />
Cara kedua untuk mendapatkan dana bail-out adalah dengan meminjamkan uang yang tidak dimilikinya. Cara ini agak beresiko dan meliputi teknik-teknik akunting yang canggih. Jika dijabarkan bahasan saya akan melebar, tapi kira-kira pengalaman dengan obligasi rekap bank-bank kita bisa menjelaskan mekanisme cara ini.</p>
<p><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/graph.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-96" title="graph" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/graph.jpg" alt="" width="500" height="368" /></a><em><strong>It’s Hyperinflation</strong></em><br />
Baik dengan cara pertama, yaitu mencetak uang maupun cara kedua dengan meminjamkan uang yang tidak dimilikinya, keduanya memiliki karakteristik yang sama. Menambah jumlah uang tanpa menghasilkan output (baca:<br />
produksi). Akal sehat saya mengatakan ini hiperinflasi. Kita pernah mengalami hal yang serupa di Indonesia ketika krisis melanda pada tahun 1998. Jadi apa yang kita alami dulu, sekarang dialami oleh Amerika. Jika anda masih ingat, ketika itu nilai tukar rupiah menurun drastis dari Rp. 2,500,- menjadi Rp. 15.000,- per 1 USD-nya ? Jadi kalau kita amati dari pengalaman tadi, sangat mungkin kini yang terjadi adalah sebaliknya. <em>(Bersambung)</em></p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fthe-fall-of-usd%2F&amp;linkname=The%20Fall%20of%20USD"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/the-fall-of-usd/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Beliefs, The Power To Create, The Power To Destroy</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/beliefs-the-power-to-create-the-power-to-destroy/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/beliefs-the-power-to-create-the-power-to-destroy/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 06:02:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Road To Wealth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=88</guid>
		<description><![CDATA[Dari segala macam pembahasan mengenai kekayaan, mungkin inilah isu yang paling mendasar, akar dari segalanya, keyakinan atau rasa percaya. Tindakan kita sebenarnya merupakan fungsi dari belief system yang ditanamkan dalam diri kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang tidak semuanya merupakan cerminan dari apa yang kita yakini atau percayai dan apa yang tidak. Brian [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dari segala macam pembahasan mengenai kekayaan, mungkin inilah isu yang paling mendasar, akar dari segalanya, keyakinan atau rasa percaya. Tindakan kita sebenarnya merupakan fungsi dari belief system yang ditanamkan dalam diri kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang tidak semuanya merupakan cerminan dari apa yang kita yakini atau percayai dan apa yang tidak. Brian Tracy dalam bukunya “Getting Rich Your Own Way” mengatakan, “salah satu alasan seseorang tidak menjadi kaya adalah karena tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia bisa menjadi kaya”. Kenapa tidak pernah terpikirkan? Karena ia lahir dari lingkungan yang biasa-biasa saja, pergi ke sekolah dan bergaul dengan teman-teman yang juga berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan sebagainya. Sehingga ia merasa bahwa menjadi kaya bukanlah dirinya. Dan ia meyakini menjadi kaya adalah milik orang lain. “If you believe something is imposibble, it is imposibble for you to achieve that something”, demikian salah satu kutipan dalam buku Brian Tracy, dengan kata lain kutipan tersebut bermakna bahwa jika kita ingin mewujudkan apa yang kita kehendaki hal pertama yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa hal tersebut mungkin utuk diwujudkan. Selama ribuan tahun tidak ada orang yang bisa berlari menempuh 1 mil (setara dengan 1,6 km) dalam waktu 4 menit. Hal tersebut dianggap mustahil dari segi fisik seseorang. Orang pertama yang mampu mematahkan anggapan itu adalah Roger Bannister. Ia mampu berlari menempuh jarak 1 mil dengan catatan waktu 3,59 menit. Setelah semua orang yakin bahwa batasan waktu 4 menit mampu dicapai oleh manusia, ditahun-tahun berikutnya banyak pelari yang mampu berlari menempuh jarak 1 mil dengan batas waktu 4 menit. Saat ini, hampir semua atlit dapat melakukannya dengan sempurna. Contoh kecil seorang Roger Bannister meyakinkan kita bahwa apa yang sebenarnya kita yakini akan menentukan tindakan tindakan kita selanjutnya. Jika kita implementasikan dalam masalah keuangan, ada hal menarik yang patut anda cermati, yaitu keyakinan atau kepercayaan yang berputar di sekitar masalah keuangan dan kekayaan. Hal ini menjadi menarik karena sangat tercermin paradoksnya. Hampir semua orang jika diajukan pertanyaan apakah anda ingin menjadi kaya, secara sadar akan menjawab ‘ya’. Siapa yang tidak ingin kaya? Tentu semua akan menjawab ‘ya’ tanpa terkecuali. Akan tetapi cermati baik-baik apa kepercayaan yang ada dalam pikiran kita tentang uang?<span id="more-88"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/uang.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-89" title="uang" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/uang.jpg" alt="" width="330" height="350" /></a></p>
<p><em>“Uang adalah akar segala kejahatan”<br />
“Orang kaya itu serakah”<br />
“Orang kaya itu korup dan pelit”<br />
“Menjadi kaya itu tidak spiritual”<br />
Dan seterusnya dan seterusnya.</em></p>
<p>dominan berkutat dalam pikiran anda. Bagaimana pun juga hal tersebut muncul karena pengaruh budaya ketimuran kita. Saya katakan menjadi paradoks karena kita ingin kaya namun sistem kepercayaan yang telah tertanam dalam pikiran kita adalah membenci uang dan orang kaya. Hal yang paling sering terjadi adalah ketika kita menganggap menjadi kaya berarti serakah dan kita tidak ingin menjadi orang yang serakah. Maka tindakan-tindakan kita secara tidak sadar menyabotase kita agar tidak menjadi kaya. Saya tekankan disini secara bawah sadar. Tidak ada satu pun manusia normal yang secara sadar menyabotase dirinya<br />
agar tidak menjadi kaya. Tindakan yang muncul bisa berupa tidak bekerja keras karena jika ia bekerja keras dan rajin ia akan mendapatkan promosi. Jika mendapatkan promosi maka ia akan menjadi kaya dan jika ia kaya ia akan menjadi orang yang serakah.<br />
Contoh lain adalah belanja berlebihan. Alasannya, jika dia berhemat maka ia akan menjadi kaya dan jika ia kaya, ia merasa hidupnya tidak terkesan spiritual. Masih banyak contoh lain yang dapat anda perhatikan disekeliling anda. Sehingga untuk mencapai hidup yang sejahtera, saran saya yang pertama adalah cek kembali sistem keyakinan anda. Jika keyakinan yang selama ini berputar dalam pikiran anda serupa dengan yang saya utarakan di atas maka ubahlah menjadi uang bukanlah akar kejahatan, uang dapat digunakan sebagai alat kebaikan dan bahwa orang kaya adalah seorang yang dermawan. Lihatlah sekeliling anda untuk mencari profil contohnya bahwa pendermapenderma terbesar di dunia adalah orang-orang kaya. Bukankah menjadi kaya juga merupakan bagian dari iman?<br />
Tidak ada kaum du’afa atau fakir yang dapat kita bantu jika kita dalam keadaan serba sulit atau bahkan bangkrut. Saya percaya dengan melatih diri anda secara konsisten terhadap sistem kepercayaan baru yang dapat membangkitkan semangat baru maka secara sadar tindakan-tindakan anda akan semakin terbenahi. Sehingga anda tidak akan tersesat dalam perjalanan anda menuju hidup yang sejahtera.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fbeliefs-the-power-to-create-the-power-to-destroy%2F&amp;linkname=Beliefs%2C%20The%20Power%20To%20Create%2C%20The%20Power%20To%20Destroy"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/beliefs-the-power-to-create-the-power-to-destroy/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Optimisme Bali 2010</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/optimisme-bali-2010/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/optimisme-bali-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 05:55:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Economic Focus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=84</guid>
		<description><![CDATA[Perekonomian Bali 2010 masih dibalut optimisme. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi basis ekonomi yang menguatkan Bali.
Berdasarkan analisa Bank Indonesia Denpasar, perekonomian Bali dalam tahun 2010 mendatang  masih akan meneruskan kegairahan yang dicapai pada tahun 2009. “Bali, ekonomi rakyatnya relatif kuta. Kami tetap optimis ekonomi Bali di tahun 2010 akan tetap kuat,” tegas Pemimpin Bank [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Perekonomian Bali 2010 masih dibalut optimisme. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi basis ekonomi yang menguatkan Bali.</em></p>
<p>Berdasarkan analisa Bank Indonesia Denpasar, perekonomian Bali dalam tahun 2010 mendatang  masih akan meneruskan kegairahan yang dicapai pada tahun 2009. “Bali, ekonomi rakyatnya relatif kuta. Kami tetap optimis ekonomi Bali di tahun 2010 akan tetap kuat,” tegas Pemimpin Bank Indonesia Jeffrey Kairupan. Selama tahun 2009, ekonomi Bali menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hingga triwulan ke-3 di tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 4,17 persen. “Sebagian besar pertumbuhan ekonomi Bali di ditopang oleh sektor UMKM,” tambah Jeffrey. Keberadaan sektor UMKM di Bali menjadikan ekonomi Bali menjadi kuat karena ditopang ekonomi kerakyatan. Ekonomi Bali yang ditopang oleh bisnis pariwisata, membangun sebuah multiplier effect yang sangat bagus karena digerakkan oleh UMKM. Dilihat dari penyaluran kredit perbankan di Bali, sektor UMKM menguasai sebanyak 80 persen. Sebagian besar diantaranya bahkan usaha kecil, dengan sebagian kecil usaha menengah. Hal ini memberi multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian masyarakat Bali. “UMKM stabil. Ada krisis nggak ada krisis, kayaknya dia anti hujan anti panas,” tambahnya.</p>
<p>Perekonomian Bali memiliki keunikan yang luar biasa dibandingkan daerah lain di Indonesia. Di Kalimantan Timur misalnya, perekonomian sangat ditopang batubara dan kelapa sawit yang notabene dikelola penuh investorinvestor besar. Demikian juga yang terjadi di Papua yang memiliki kekayaan emas, namun dikelola Free Port. “Kalau kita lihat pertumbuhan produk domestik regional<br />
bruto di Papua sangat besar, sampai 15 persen. Tetapi coba kalau angka Free Portnya dikeluarkan, sisanya cuma 2 persen,” ujar Jeffrey. Kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan Bali. Sebagian besar industri pariwisata dan pendukungnya merupakan milik rakyat. “Maka multiplier effect dari perkembangan pariwisata di Bali luar biasa. Kalau di tempat lain banyak orang kaya, tapi banyak miskin. Kalau di Bali, merata. Tidak ada ketimpangan besar antara masyarakat yang miskin dan yang kaya,” ujarnya.</p>
<p><span id="more-84"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bali.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-85" title="bali" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bali.jpg" alt="" width="500" height="259" /></a>sudah mencapai Rp. 18 triliun, naik sekitar 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2008. Kenaikan ini jauh lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit nasional yang baru menyentuh angka kenaikan sekitar enam persen. “Angka pertumbuhan kredit perbankan nasional baru 6 persen. Untuk capai 10 persen saja sudah susah. Padahal target nasional 20 persen. Dan Bali dapat mencapai itu,” ujar Jeffrey. Sebagai informasi, total pengeluaran kredit perbankan di Bali selama tahun 2008 lalu tercatat Rp. 25 triliun. Jumlah tersebut turun dibandingkan angka tahun 2007 yang mancapai Rp. 30 triliun. “Penurunan kredit di tahun 2008 merupakan dampak dari krisis di akhir tahun. Namun di tahun 2009 ini kuat. Optimisme di 2010 akan makin menguat,” tegasnya.</p>
<p>Selain pengeluaran kredit oleh 43 bank umum dan 152 Bank Perkreditan Rakyat (BPR), ekonomi Bali juga ditopang oleh penyaluran kredit Lembaga Perkreditan Desa &#8211; sebuah lembaga keuangan yang dikelola secara tradisional oleh desa adat. Meski hanya dikelola di tingkat desa, namun pengeluaran kredit oleh lembaga yang berada di luar sistem perbankan ini tergolong sangat besar. Total pengeluaran kredit LPD dI Bali mencapai rata-rata Rp. 2 triliun setahun. Jumlah ini bahkan jauh lebih tinggi dibandingkan total pengeluaran kredit oleh Bank Perkreditan Rakyat (BPR) se- Bali yang hanya sebesar Rp. 1,5 triliun.</p>
<p>Struktur kredit perbankan di Bali masih didominasi oleh konsumsi dan modal keja. “Kredit investasi di Bali memang tidak terlalu besar. Tetapi tidak tertutup kemungkinan kredit konsumsi itu digunakan sebagai modal kerja dan inveestasi,”<br />
demikian Jeffrey. Kekuatan UMKM bagi ekonomi Bali juga membuktikan betapa UMKM justru jadi faktor penguat ekonomi. Hal ini<br />
terlihat dari angka kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) perbankan di Bali sangat rendah, yakni kurang<br />
dari 2 persen. Rendahnya total NPL disebabkan oleh sektor UMKM. Padahal total NPL dari kredit-kredit besar yang jumlahnya hanya 20 persen dari total kredit, mencapai lebih dari 3 persen. “Ini membuktikan UMKM jauh lebih kuat,” tambahnya.</p>
<p>pihak ketiga (loan to deposit rate/LDR) Bali mencapai 58 persen. Jeffrey mengakui angka LDR tersebut cenderung terlihat kecil, Namun hal itu menurutnya terjadi karena jumlah dana pihak ketiga yang diterima perbankan di Bali relatif tinggi, yakni mencapai Rp. 35 triliun. Dengan jumlah penduduk Bali sebesar 3,5 juta orang, dapat diasumsikan setiap orang memiliki rata-rata Rp. 10 juta orang. “ini angka yang cukup besar, dibandingkan Sulawesi Utara misalnya, dana pihak ketiga tidak sampai separuhnya: memang banyak duit di sini (Bali),” tegasnya. Efek kesejahteraan dari struktur ekonomi Bali tergolong sangat besar. “Semua uang masuk ke masyarakat,” tandasnya. Secara sektoral, ekonomi Bali terutama didorong oleh perdagangan hotel restoran. Sekitar 80 persen perekonomian Bali ditopang sektor perdagangan hotel dan restoran.</p>
<p>Sedangkan sektor pertanian memberi kontribusi yang sangat kecil, yakni hanya sekitar 10 persen. Rendahnya kontribusi sektor pertanian ini, menurut Jeffrey, menjadi pekerjaan rumah yang penting bagi Bali. Pasalnya, ketergantungan Bali pada produk pertanian dari luar Bali menimbulkan kerentanan ekonomi. Sebanyak 60-70 persen produk pertanian yang beredar di Bali, seperti buah-buahan, masih didatangkan dari Pulau Jawa, Pulau Nusa Tenggara Barat, bahkan luar negeri. “Kalau mendadak pengiriman terhambat karena ombak atau kendala-kendala lain, maka akan memicu terjadinya inflasi. Ini tidak baik bagi Bali,” tegasnya.</p>
<p>perekonomian yang sangat penting. Apalagi dengan banyaknya turis yang datang ke Bali, maka kebutuhan Bali atas hasil-hasil pertanian untuk konsumsi sangatlah besar. “Ini PR besar bagi kita semua untuk lebih banyak fokus ke pertanian,” tambahnya. Sektor perikanan juga dikatakan sebagai potensi besar Bali yang belum tergarap. “Bali dikelilingi laut. Jadi agenda besar kedepan untuk kita adalah lebih fokus pada sektor pertanian dan perikanan,” tandasnya. Menurut Jeffrey, pertanian merupakan basis ekonomi yang akan menguatkan. Ia mencontohkan negara maju Swiss yang tetap memberi perhatian khusus pada sektor pertanian. Hal serupa juga dilakukan oleh Jepang. “Sektor primer ini (pertanian) harus karena menjadi sendi mendasar. Ini PR besar kita di tahun 2010 mendatang,” ujarnya.</p>
<p>Pengamat sektor pertanian dari Universitas Udayana Dewa Ngurah Suprapta menegaskan pengembangan sektor pertanian harus didukung oleh kebijakan-kebijakan khusus dari pemerintah. “Setidaknya harus ada insentif bagi para petani ataupun investor yang akan membangun sektor pertanian di Bali,” tegasnya. Ditegaskan Suprapta, realitas pertanian Bali masih sangat besar. Jumlah petani di Bali saat ini masih mencapai sekitar 600 ribu orang. Jumlah itu jauh menurun dibandingkan sebelumnya, karena banyaknya<br />
petani yang beralih profesi menjadi pegawai hotel, restoran, dan industri pendukung pariwisata lainnya. Perubahan struktur ekonomi ke sektor pariwisata itu, menurit Suprapta, juga dipicu oleh kesalahan pembangunan ekonomi Bali. “Sebenarnya tidak harus semua daerah mengembangkan pariwisata. Sektor pertanian sebagai basis harus benar-benar digarap serius,” tegas Suprapta. Bali, kata Suprapta, memiliki berbagai potensi pariwisata yang besar. Ia mencontohkan produk kopi, kakao, dan lain-lainnya. “Produk produk pertanian Bali dikenal sangat unggul. Ini harus dibangun dengan optimal,” tegasnya.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Foptimisme-bali-2010%2F&amp;linkname=Optimisme%20Bali%202010"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/optimisme-bali-2010/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Merintis dari Desa, Menjangkau Dunia</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/merintis-dari-desa-menjangkau-dunia/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/merintis-dari-desa-menjangkau-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Feb 2010 05:37:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[The Interview]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=81</guid>
		<description><![CDATA[Bermula dari sebuah ruang sempit di desa asalnya, Desa Singapadu Kabupaten Gianyar Bali, Putu Sudiarta (34 tahun) kini telah menyebarkan software aplikasi komputer buatannya untuk lembaga-lembaga pendidikan, perkantoran dan bisnis ke seluruh dunia. PT. Bamboomedia Cipta Persada, demikian nama perusahaan yang dirintis Sudiarta sejak tahun 2002 lalu itu. Perusahaan penyedia berbagai software aplikasi komputer itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bermula dari sebuah ruang sempit di desa asalnya, Desa Singapadu Kabupaten Gianyar Bali, Putu Sudiarta (34 tahun) kini telah menyebarkan software aplikasi komputer buatannya untuk lembaga-lembaga pendidikan, perkantoran dan bisnis ke seluruh dunia. PT. Bamboomedia Cipta Persada, demikian nama perusahaan yang dirintis Sudiarta sejak tahun 2002 lalu itu. Perusahaan penyedia berbagai software aplikasi komputer itu kini berkantor di sebuah rumah toko berlantai dua di Jalan Merdeka Renon Denpasar, sebuah kantor yang tergolong cukup mewah dibandingkan ketika awal ia merintis usahanya itu di Desa Singapadu. ”Saya tidak pernah menyangka akan bisa sampai di sini,” tegas Sudiarta. Sudiarta menunjukkan sebuah lemari kecil di ruang kerjanya. Lemari itu berisi beberapa disket, telepon rumah, brosur- brosur, CD, kabel internet, beberapa buku serta sebuah hairdryer. “Ini kami sebut memorial box. Dari sinilah Bamboomedia berdiri sampai menjadi seperti sekarang,” ujarnya pria kelahiran 7 Januari 1975 itu.</p>
<p><span id="more-81"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bamboo.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-82" title="bamboo" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bamboo.jpg" alt="" width="271" height="350" /></a>Barang-barang tersebut yang mengawalinya menjadi terkenal di dunia teknologi informasi. Ia sendiri pun tak menyangka bisa sebesar sekarang dan banyak orang-orang dari luar Bali mengunjunginya karena rasa penasaran mereka tentang sosok yang berada dibalik Bamboomedia. Bahkan, ia tak membayangkan produknya bisa tersebar. Bagaimana tidak? Ketika berdiri tahun 2002 lalu, Putu Sudiarta tak sungkan mengemas compact disk dengan plastik yang dipanaskan dengan hairdryer. “Sekarang, semua produk dikemas dengan mesin, tak manual lagi dengan hairdryer,” ungkap Sudiarta sambil tertawa. Siapa yang menyangka, kini produk software Bamboomedia sudah digunakan oleh sekitar 30.000 perusahaan kecil dan menengah. Sebanyak sekitar 200 aplikasi bamboomedia juga sudah disebarkan ke mancanegara Sebelum merintis usahanya, lulusan jurusan Informatika STIKOM Surabaya, Jawa Timur sempat bekerja di sebuah perusahaan di Surabaya. Namun ia kemudian memutuskan kembali ke Bali dan membangun tanah kelahirannya. Selanjutnya bersama seorang adik serta seorang temannya, ia menggalang kekuatan menembus pasar dengan menjual beberapa aplikasi yang sudah disusun secara mudah untuk dicerna dan diikuti tanpa merasa digurui. Bermodalkan dana sekitar Rp.50 juta dan sebuah ruangan kecil di kampung halamannya, Sudiarta mulai menggali potensinya. Sejak 2002 hingga sekarang ia pun sudah bisa menyabet beberapa penghargaan edukasi untuk produkproduknya khususnya aplikasi untuk anak-anak mulai usia 6 bulan.</p>
<p>Dalam membangun bisnisnya, Sudiarta berprinsip tak mau mencari keuntungan semata. Itu sebabnya Bamboomedia Cipta Persada dikenal sebagai perusahaan penyedia software dengan harga yang terjangkau bagi kalangan menengah kebawah. Intinya, perusahaan ini hanya mementingkan pendidikan dan bagaimana aplikasi ini bisa menyebar secara benar, baik, mudah, dan murah tanpa batas. Putu Sudiarta hanya menjual CD aplikasinya itu mulai harga Rp 25.000 hingga Rp 300.000 per kepingnya. Tidak berhenti  sampai disitu, aplikasinya pun boleh diakses oleh siapa pun dari sekeping CD hanya dengan mendaftar atau membayar sejumlah uang sesuai harga CD tanpa harus datang ke kantornya. Dan yang pasti tak pernah ada kata ketinggalan jaman. “Kami ingin siapa pun bisa mudah untuk belajar meski jaraknya jauh sekalipun dari sini (Bali-red). Buktinya, kami memiliki pelanggan di daerah Papua hanya dengan mengirimkan pesan singkat untuk mendapatkan nomor regristasi dan transfer uang. Satu CD bisa dipakai berulangkali,” jelasnya. Untuk mengejar atau menyamai perkembangan teknologi dunia, ia dibantu temannya yang berada di Amerika Serikat.</p>
<p>Temannya, rutin memberikan info-info teknologi yang tengah berkembang. Saat ini Bamboomedia mampu menggaet Microsoft dan Intel menjadi mitra kerja dan sudah menghasilkan sekitar 200 program terdiri dari program perkantoran, programming, grafis, games, software pendidikan untuk anak-anak, internet dan web, pendidikan untuk siswa dan guru sekolah. Dari hanya 5 orang karyawan, Sudiarta kini telah mempekerjakan sebanyak 30 karyawan. Dari jumlah itu, 16 diantaranya adalah tenaga kreatif yang bisa bertambah 5 sampai 10 orang bila tengah membuat sebuah program. Berbagai penghargaan juga telah diraih. Diantaranya e- Learning Award 2006, Educational Software Developer dari Departemen Pendidikan Nasional, Silpakara Nugraha, Riset Industri &amp; Added Value 2007 dari Gubernur Bali, e-Learning Award 2008 Educational Software Developer dari Depdiknas, Indonesia ICT Award 2008 e-Business KUKM Depkominfo, dan lainnya. Kesuksesan tak mau membuat Sudiarta puas begitu saja. Bapak satu anak ini terus bertekad untuk menyebarkan pendidikan dengan teknologi informasi ke masyarakat. Kini ia tengah merintis Singapadu Project, sebuah proyek inovasi teknologi internet berupa e-Learning Live, Mini Facebook for Kids Education, dan Longlife Bussiness. Nama proyek sengaja diambil dari nama desa seni, tempat Sudiarta memulai usahanya di tahun pertama. “Project ini kami harapkan bisa<br />
menjadi pondasi inovasi untuk tahun 2010-2015,” tegasnya</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fmerintis-dari-desa-menjangkau-dunia%2F&amp;linkname=Merintis%20dari%20Desa%2C%20Menjangkau%20Dunia"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/merintis-dari-desa-menjangkau-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Memilih Orang Yang Tepat</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/memilih-orang-yang-tepat/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/memilih-orang-yang-tepat/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 10:10:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Growth Strategies]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[Kurang lebih dua bulan lalu kami kedatangan pelanggan yang sedang mengalami masalah dengan rekanan bisnis. Ia bercerita bahwa ia sudah teramat pusing dengan ulah rekanan bisnisnya tersebut. Muncul berbagai masalah dari pembayaran yang tidak ada rincian atau tidak sesuai dengan kesepakatan, kesepakatan penyetoran modal yang tidak dipenuhi dan yang terakhir adalah penarikan dana untuk pembayaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kurang lebih dua bulan lalu kami kedatangan pelanggan yang sedang mengalami masalah dengan rekanan bisnis. Ia bercerita bahwa ia sudah teramat pusing dengan ulah rekanan bisnisnya tersebut. Muncul berbagai masalah dari pembayaran yang tidak ada rincian atau tidak sesuai dengan kesepakatan, kesepakatan penyetoran modal yang tidak dipenuhi dan yang terakhir adalah penarikan dana untuk pembayaran ke supplier yang dihambat, sehingga dia terus-terusan dikejar oleh supplier. Kemudian setelah bercerita, ia bertanya? “Bagaimana ya mengatasi masalah ini dan Bagaimana caranya agar rekanan bisnis saya tersebut berhenti membuat masalah?” “Kalau rekanan bisnis ibu (pelanggan tersebut, red.) kerap menimbulkan masalah baik dengan ibu atau pihak lain,satu hal yang harus ibu lakukan adalah selesaikan secepatnya masalah ini dan jangan bekerjasama lagi dengan orang tersebut. Karena sumber permasalahannya ada pada rekanan bisnis ibu, ada pada karakternya. Ibu telah salah memilih rekanan bisnis, salah memilih orang yang tepat untuk dijadikan rekanan bisnis!”, demikian saran yang kami utarakan. Hal yang sebenarnya terjadi pada ibu tadi adalah kesalahan dalam memilih orang yang tepat untuk diajak bekerjasama. Dan tentang memilih orang yang tepat adalah tantangan bagi kita semua, termasuk bagi perusahaan yang akan merekrut karyawan baru. Bank kami (BPR Lestari, red.) pun pernah salah memilih orang yang tepat untuk bergabung sebagai karyawan. Kami<span id="more-68"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/growth.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-69" title="growth" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/growth.jpg" alt="" width="500" height="279" /></a></p>
<p>kerja yang rendah dari bisnis unit tersebut, sampai dengan timbulnya masalah internal tim. Hasil akhir bisa ditebak, tim beserta unit bisnisnya berantakan. Dengan amat terpaksa kami meminta orang yang bersangkutan untuk mengundurkan diri dengan alasan bahwa dia bukanlah orang yang tepat untuk kami dan perusahaan kami pun tidak tepat untuknya. “Memilih orang yang tepat lebih didasarkan kepada karakter bukan kompetensi atau skills”. Kami belajar dari pengalaman dan buku “Good to Great” karya Jim Collins, bahwa orang yang tepat bukan dinilai dari kompetensi atau keterampilannya saja, tetapi juga dari karakter individu tersebut. Karakter-karakter tersebut seperti: apakah calon karyawan tersebut memiliki perilaku mengawasi karyawan-karyawan yang berkarakter tidak baik dan kegiatan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tidak semestinya terjadi. Yang lebih parah lagi, kita akan membuat peraturan-peraturan serta prosedur baru yang semestinya tidak diperlukan hanya untuk menjaga resiko-resiko yang mungkin timbul dari tindakan karyawan-karyawan yang berkarakter tidak baik ini. Dengan kata lain kita membuat peraturan untuk semua orang hanya dikarenakan oleh orang-orang yang berkarakter tidak baik. Jadi, memilih rekanan bisnis dan karyawan prinsipnya sama. Kita harus memilih orang yang tepat dan orang yang tepat lebih didasarkan pada penilaian karakter.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fmemilih-orang-yang-tepat%2F&amp;linkname=Memilih%20Orang%20Yang%20Tepat"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/memilih-orang-yang-tepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bambu Menghidupi Desa Belega</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/bambu-menghidupi-desa-belega/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/bambu-menghidupi-desa-belega/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 10:02:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Small Biz Home Biz]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=63</guid>
		<description><![CDATA[Bambu di mana-mana. Begitulah kesan yang muncul ketika memasuki Desa Belega, sebuah desa kecil di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar. Toko-toko kerajinan, mebel dan furnitur dari bambu, menjadi pemandangan yang mengakrabi sepanjang jalan desa. Lalu lalang masyarakat desa membawa bambu menjadi pemandangan yang biasa. Bambu merupakan nafas kehidupan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bambu di mana-mana. Begitulah kesan yang muncul ketika memasuki Desa Belega, sebuah desa kecil di Kecamatan Blahbatuh Kabupaten Gianyar Provinsi Bali, sekitar 30 kilometer dari Kota Denpasar. Toko-toko kerajinan, mebel dan furnitur dari bambu, menjadi pemandangan yang mengakrabi sepanjang jalan desa. Lalu lalang masyarakat desa membawa bambu menjadi pemandangan yang biasa. Bambu merupakan nafas kehidupan di Desa Belega. Setidaknya itulah yang dirasakan Made Wijaya (42 tahun). Bambu<br />
sudah menjadi tumpuan hidup Wijaya dan keluarganya sejak puluhan tahun lalu. Ia meneruskan usaha warisan kakeknya almarhum I Wayan Jarsa atau biasa dikenal sebagai Pak Mangku yang dirintis sejak tahun 1970-an. “Saya hidup dari bambu. Sejak kecil saya dibesarkan dari usaha bambu,” tegas Wijaya. Ia merupakan penerus generasi ketiga dari usaha bambunya. Sang kakek, I Wayan Jarsa, menjadi salah satu perintis sentra industri bambu di Desa Belega. Ketika itu, Jarsa bersama tiga orang tetangganya berkreasi dengan bambu yang banyak tumbuh di desa mereka. Usaha mereka ternyata mendapat respon yang baik dari wisatawan asing yang ketika itu banyak datang ke Desa Bone, desa tetangga, yang ketika itu ramai dikunjungi wisatawan asing untuk menyaksikan pertunjukkan tari tradisional kecak. Respon yang baik dari wisatawan, membuat mereka terus berkreasi dengan bambu. Mereka bahkan berburu pengalaman mengkreasikan bambu hingga ke Jawa Tengah dan Yogyakarta, dua daerah yang telah sukses mengembangkan bambu. Usaha itu tak sia-sia. Mengolah bambu dan berkreasi dengan tanaman jenis rumput raksasa itu menjadi virus yang menyebar cepat di kalangan warga Desa Belega. Warga Desa Belega yang sehari-hari menjadi petani, memiliki aktivitas tambahan yang menghasilkan rupiah lumayan. Pada masa keemasannya di tahun 80-an hingga 90-an, hampir seluruh penduduk sekitar Belega yang berjumlah tidak lebih dari 10.000 kepala keluarga itu piawai sebagai perajin bamboo, baik pria maupun wanita. Pesanan ekspor pun berdatangan ke Belega. Pesanan datang dari berbagai negara seperti Australia, negara-negara di Eropa dan Amerika. Kerajinan bambu Belega dikenal hingga ke mancanegara karena kerapihannya. Sepintas, bentuk dan model mebel bambu Belega memang tidak berbeda dengan buatan Jawa Tengah dan Yogyakarta.</p>
<p><span id="more-63"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bambu.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-64" title="bambu" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/bambu.jpg" alt="" width="500" height="279" /></a>kerajinan bambu Belega masih dibuat secara tradisional dengan tangan. “Kakek saya menurunkan resep khusus hasil temuannya sendiri bagaimana cara bambu bisa terpasang<br />
cantik serta awet,” ujarnya. Untuk memenuhi permintaan yang membludak, para perajin bambu Belega bahkan harus mendatangkan bambu dari luar Belega. “Di sini (Belega) sulit nyari bambu bagus,” ujar Wijaya. Bambu-bambu yang diolah di Belega didatangkan<br />
dari wilayah Kabupaten Bangli Bali dan Malang Jawa Timur. Tahun keemasan usaha bambu Belega mulai memudar seiring krisis moneter 1998. Diikuti dengan peristiwa ledakan bom di Bali tahun 2002 dan 2005 menjadikan nilai ekspor bambu semakin tidak menentu. Tak heran jika sebagian besar warga Desa Belega mulai beralih ke mata pencaharian lain, seperti menjadi karyawan hotel atau restoran dan menjadi urban di Kota Denpasar.</p>
<p>Namun hingga kini, bambu masih menjadi tumpuan hidup bagi Wijaya dan keluarga, juga sebagian besar warga Desa Belega lainnya. Dari rumah yang sekaligus tempat kerja dan showroomnya, Wijaya terus berupaya mengembangkan usaha warisan keluarganya. “Sekarang tantangannya semakin besar. Untuk bisa bertahan saja, sudah bagus,” tegasnya. Kondisi ekonomi dunia yang tidak menentu cukup menggoyang bisnis bambu Desa Belega. Krisis yang terjadi di Amerika Serikat beberapa waktu lalu misalnya, cukup mengagetkan Wijaya. Pasalnya, pesanan sebanyak 200 unit kerajinan bambu berupa kursi, meja, dan lemari, batal dikirim ke Eropa karena pembatalan sepihak dari pembeli. Padahal belum sepeserpun dana diterima Wijaya. “Selama ini kami pakai modal percaya. Karena sudah pelanggan tetap, jadi mereka tidak bayar uang muka,” keluh Wijaya. Akibat pembatalan sepihak itu, tumpukan mebel kini menggunung di rumahnya. “Ini risiko dagang tanpa perjanjian dan hanya didasari kepercayaan. Nilai pesanan sekitar Rp 200 juta pun melayang,” ujarnya lemah. Ironisnya, di tengah kondisi tersebut, serbuan investasi asing yang menjadi pesaing berat bagi perajin lokal semakin mempersulit para pengrajin. Sejumlah investor asing membuka usaha serupa di Desa Belega. “Ya, pasti mereka menjadi pesaing berat kami. Akses mereka pasti lebih kuat. Sedangkan kami mengandalkan kenalan, tamu yang datang. Saya pernah mencoba berpromosi lewat internet, tetapi hasilnya nihil,” tandas Wijaya. Meski demikian, Wijaya tegas menyatakan akan tetap bertahan meneruskan usaha keluarganya, meski hingga kini hanya tersisa sekitar 50 keluarga yang masih bertahan dengan usaha kerajinan bambu. Salah satu usaha Wijaya yakni dengan lebih berkreasi. “Sekarang mulai mencoba perpaduan bambu dengan bahan-bahan lain seperti kayu, jadi lebih mengikuti tren. Saya tetap optimis kerajinan bambu Belega tidak akan pernah punah,” ujarnya.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fbambu-menghidupi-desa-belega%2F&amp;linkname=Bambu%20Menghidupi%20Desa%20Belega"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/bambu-menghidupi-desa-belega/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Compounding Interest, The Magic Tools For Your Wealth</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/compounding-interest-the-magic-tools-for-your-wealth/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/compounding-interest-the-magic-tools-for-your-wealth/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 09:15:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Smart Family]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Einstein pernah mengatakan bahwa salah satu keajaiban dunia adalah compounding interest. Compounding Interest atau dengan kata lainnya bunga berbunga adalah cara yang memungkinkan setiap orang menjadi milyuner.
Cara kerja compounding interest kurang lebih tergambar jika anda menabung setiap bulannya dalam satu rekening tabungan yang memberikan bunga tertentu. Dan nilai saldo rekening anda akan bertambah setelah digabungkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Einstein pernah mengatakan bahwa salah satu keajaiban dunia adalah compounding interest. Compounding Interest atau dengan kata lainnya bunga berbunga adalah cara yang memungkinkan setiap orang menjadi milyuner.</strong></em></p>
<p>Cara kerja compounding interest kurang lebih tergambar jika anda menabung setiap bulannya dalam satu rekening tabungan yang memberikan bunga tertentu. Dan nilai saldo rekening anda akan bertambah setelah digabungkan dengan nilai bunga yang anda dapatkan. Jika anda menambah nilai saldo tabungan anda, maka nilai bunga akan ditambahkan kembali bersama nilai pokok saldo tabungan anda. Demikian seterusnya. Untuk menggambarkan betapa dahsyatnya konsep compounding interest ini, berikut saya ilustrasikan kepada anda dengan nilai nominal yang ekstrim:<br />
jika seseorang sejak dilahirkan menabung Rp. 50.000,- (lima puluh ribu rupiah) setiap bulannya dalam satu rekening investasi yang bunganya 7% setahun dan nilai tersebut diakumulasikan selama 70 tahun maka ketika si anak tersebut berusia 70 tahun simpanannya mencapai Rp. 1.132.782.692 (satu milyar seratus tiga puluh dua juta lebih).</p>
<p><span id="more-57"></span></p>
<p><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/smartfamily.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-58" title="smartfamily" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/smartfamily.jpg" alt="" width="500" height="203" /></a></p>
<p>Untuk memperjelas kekuatan compounding interest dalam simpanan si anak tersebut di atas, berikut detail yang dapat anda cermati. Total jumlah sebenarnya dari simpanan anak adalah 50.000 x 12 x 70, secara total Cuma 42 juta rupiah. Tapi dengan kekuatan bunga berbunga, hasil akhirnya mencapai satu milyar lebih. Dahsyat bukan? Sekarang cobalah anda berandai-andai dengan angka yang lebih realistik. Mona, seorang account executive bank berusia 22 tahun, setelah membaca artikel ini, ia mengerti akan<br />
besarnya manfaat compounding interest. Maka mulailah ia menyisihkan sebagian gajinya sebesar Rp. 500.000,- setiap<br />
bulan untuk ditabung ke rekening investasi yang bunganya 7% sebulan. Jika Mona konsisten dalam menabung maka kelak ketika ia mencapai usia pensiun (65 tahun) maka saldo simpanannya akan mencapai Rp. 1.647.620.229,-. Mona pensiun sebagai seorang milyuner&#8230; Lumayan kan? Ada tiga hal yang berpengaruh terhadap besaran nilai simpanan pensiun Mona, yaitu jumlah nilai investasi, return (bunga) dari investasi dan yang terpenting adalah jangka waktu simpanannya. Sekarang perhatian ilustrasi yang akan saya gambarkan tentang Mona yang sangat memperhatikan tabungan pensiunnya. Sejak mulai bekerja pada usia 22 tahun, Mona menabung Rp. 500.000,- setiap bulannya. Karena ia bekerja keras karirnya pun meningkat. Seiring dengan menanjaknya<br />
karir pendapatannya pun bertambah. Maka setiap tahun Mona menambah 25% tabungannya (investasinya). Jika tahun ke-1 ia menabung Rp. 500.000, tahun berikutnya Rp. 625.000, tahun ketiga Rp. 781.250 dan seterusnya. Dan jika Mona aktif belajar bagaimana cara berinvestasi dan alat-alat investasi maka ia akan mendapatkan bunga 15% setahunnya. Bagi investor berpengalaman mendapatkan bunga 20%-30% mudah untuk didapatkan. Dengan cara ini, maka nilai investasi Mona pada usia 45 tahun, simpanannya mencapai Rp. 10.090.693.504,- (10 milyar lebih) setelah dipotong pajak. Sebagai hasil, Mona dapat pensiun dini dan kaya. Compounding interest adalah cara paling mudah untuk menjadi kaya. Jangan sampai tidak kita manfaatkan.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fcompounding-interest-the-magic-tools-for-your-wealth%2F&amp;linkname=Compounding%20Interest%2C%20The%20Magic%20Tools%20For%20Your%20Wealth"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/compounding-interest-the-magic-tools-for-your-wealth/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>John Davison Rockefeller</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/john-davison-rockefeller/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/john-davison-rockefeller/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:51:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Front Of Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=54</guid>
		<description><![CDATA[Anda pasti pernah mendengar tentang Chevron Oil, ExoonMobil, ConocoPhilips, Penzoil, atau ChaseManhattan, namun anda mungkin tidak pernah menyangka kalau sebelumnya semua perusahaan raksasa tersebut pernah dimiliki atau setidaknya didirikan oleh satu orang, John Davison Rockefeller. Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, Rockefeller muda telah diajarkan oleh orang tuanya untuk bekerja keras dan hidup sederhana. Dengan kemampuannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Anda pasti pernah mendengar tentang Chevron Oil, ExoonMobil, ConocoPhilips, Penzoil, atau ChaseManhattan, namun anda mungkin tidak pernah menyangka kalau sebelumnya semua perusahaan raksasa tersebut pernah dimiliki atau setidaknya didirikan oleh satu orang, John Davison Rockefeller. Terlahir dari sebuah keluarga sederhana, Rockefeller muda telah diajarkan oleh orang tuanya untuk bekerja keras dan hidup sederhana. Dengan kemampuannya yang luar biasa dalam mengolah angka dan statistik, Rockefeller tumbuh menjadi salah satu pengusaha terhebat yang pernah ada. Intuisi yang tajam ditambah sikapnya yang pemberani<br />
bahkan beberapa orang menyebutnya <em><strong>“god persuader”</strong></em> menjadikannya disegani oleh kompetitor-kompetitor bisnisnya. Rockefeller memulai bisnis minyak bumi setelah dia membeli sebuah penyulingan minyak bumi dari Clark Bersaudara yang menjadi rival bisnisnya dulu dalam sebuah pelelangan di Cleveland dan menggantinya dengan nama Rockefeller &amp; Andrews. Keputusannya sangat tepat, karena setelah perang sipil Amerika Serikat mengalami pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi, penciptaan lapangan kerja besar-besaran, pembangunan infra struktur yang membutuhkan energi dalam jumlah yang sangat besar dan dalam sekejap Rockefeller menjadi seorang milyader.</p>
<p><span id="more-54"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/rock.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-55" title="rock" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/rock.jpg" alt="" width="200" height="282" /></a>Tidak berhenti disitu Rockefeller melakukan ekspansi pasar dengan membuka kantor pemasaran di New York setelah adiknya, William Rockefeller membangun satu lagi penyulingan minyak di Cleveland dan mengubah firmanya menjadi Rockefeller, Andrews &amp; Flagler yang merupakan cikal bakal kerajaan bisnisnya. Pada tahun 1870 Rockefeller mendirikan Standar Oil dan menjadi salah satu distributor bahan bakar Rockefeller memulai taktik bisnisnya yang dianggap sebagian orang sebagai kartel dimana dia memaksakan rabat hampir 50% kepada penyalur-penyalur besar dan bahkan kepada kompetitornya yang berdampak pada ketidakstabilan harga pasar. Tindakan ini menimbulkan kekacauan sistem perekonomian dan menyulut aksi protes dari para pemilik sumur-sumur minyak independen. Sebuah penyulingan minyak besar di New York Charles Pratt and Company mengajukan peninjauan kembali kepada otoritas Pennsylvania yang akhirnya mengeluarkan standarisasi harga dan pelarangan aksi-aksi monopoli.</p>
<p>Meskipun mendapatkan perhatian yang besar dari masyarakat dan pers, Rockefeller tetap melakukan penetrasi bisnis yang agresif dengan membeli penyulinganpenyulingan minyak dari kompetitornya, memperbaharaui sistemnya, melakukan efisiensi dan pembenahan manajemen, membuat kesepakatan-kesepakatan rahasia dan secara perlahan melumpuhkan rivalrivalnya. Akhirnya pada tahun 1872, hanya dalam jangka waktu 4 bulan Rockefeller memiliki 22 dari 26 penyulingan minyak di Cleveland yang dikenal dengan peristiwa “Penaklukan Cleveland,” dan bahkan pesaing yang mengajukan peninjauan kembali sebelumnya, Charles Pratt and Company menyadari betapa berbahayanya jika mereka tetap memaksakan diri untuk bersaing dengan Rockefeller dengan kata lain<br />
“bergabung atau bangkrut”. ada 1874 Charles Pratt and Company akhirnya memutuskan untuk berpartner dengan Standard Oil.</p>
<p>Namun dipuncak karier bisnisnya, Rockefeller justru berencana untuk pensiun bersamaan dengan disusunnya peraturan anti-monopoli baru dibawah Sherman Antitrust Act oleh Presiden Amerika saat itu Theodore Roosevelt. Pada tahun 1902 Rockefeller meletakkan jabatan operasional di usia 63 dan jabatan presidensial pada tahun 1911 dengan kekayaan 58 juta dollar “hanya” dari investasi saja. Diluar kontroversi tentang sepak terjang bisnisnya, harus diakui bahwa Rockefeller merupakan pelopor industri dan manajemen moderen, dengan kemampuan bisnis yang hampir mendekati sempurna, intuitif, visionary dan seorang philanthropy.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fjohn-davison-rockefeller%2F&amp;linkname=John%20Davison%20Rockefeller"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/john-davison-rockefeller/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Business Stripped Bare Adventure of Global Entrepreneur</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/business-stripped-bare-adventure-of-global-entrepreneur/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/business-stripped-bare-adventure-of-global-entrepreneur/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:36:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Literatur]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[Richard Branson
Dalam buku ini, Richard Branson memaparkan petualangannya membangun merk Virgin yang dimulai ketika ia mendirikan Majalah “Student” di usia 16 tahun, berbagai pengalaman mengenai pencapaian terbesarnya selama kurun waktu lebih dari empat puluh tahun berbisnis dan pelajaran yang telah dipetiknya dari kekeliruannya. Buku Richard Bransond – Business Stripped Bare (baca: bisnis yang blak-blakan) merupakan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong>Richard Branson</strong></em></p>
<p>Dalam buku ini, Richard Branson memaparkan petualangannya membangun merk Virgin yang dimulai ketika ia mendirikan Majalah “Student” di usia 16 tahun, berbagai pengalaman mengenai pencapaian terbesarnya selama kurun waktu lebih dari empat puluh tahun berbisnis dan pelajaran yang telah dipetiknya dari kekeliruannya. Buku Richard Bransond – Business Stripped Bare (baca: bisnis yang blak-blakan) merupakan gabungan antara strategi bisnis yang bernilai dan kisah pribadi yang menakjubkan dan gambling. Buku ini adalah panduan yang sangat bermanfaat dan dapat memberi inspirasi untuk mencapai kesuksesan, baik bagi anda seorang eksekutif, pengusaha, maupun yang baru berkecimpung di dunia bisnis. Richard mengupasnya hingga tuntas untuk menunjukkkan kepada anda bagaimana membuat mimpi-mimpi besar anda menjadi kenyataan. Richard Branson melalui group bisnis Virgin<br />
telah menjalankan bisnis di bidang pembuatan rel kerata api, pesawat luar angkasa, pendirian maskapai penerbangan, industri<br />
musik dan lain-lain. Bagaimana Richard mengembangkan bisnisnya? Ia mengubah ide usaha menjadi bisnis yang luar biasa. Ia menerima ratusan ide bisnis setiap bulannya, biasanya langsung melalui situsnya. Ia menggaji seorang “penjaga pintu” – asisten<br />
pengembangan perusahaan yang bertugas untuk mencatat, mendata dan mengklasifikasi ide-ide yang diterima. Ide tersebut kemudian diteruskan kepada tim pakar. Oleh mereka, ide-ide tersebut dibaca dan dipelajari dengan teliti untuk mencari sisi terbaiknya. Hanya sedikit ide yang bisa sampai ke tim investasi profesional.</p>
<p><span id="more-49"></span></p>
<p><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/richard.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-50" title="richard" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/richard.jpg" alt="" width="200" height="282" /></a>Ide-ide bisnis tersebut tidak sepenuhnya datang dari luar, justru sebagian besar datang dari dalam lingkungan Virgin. Jika ide tersebut diaplikasikan maka Richard mengajak karyawannya untuk ikut terlibat dalam pelaksanaan bisnisnya. Ia telah mengubah lebih dari 110 orang menjadi jutawan dan multijutawan karena ikut terlibat dalam bisnis Virgin. Semua itu adalah penghargaan yang diperoleh karena berhasil mencapai kesuksesan. Seperti yang dikisahkan Richard, salah satu multijutawan yang dihasilkan Group Virgin yaitu CEO Virgin Blue Brett Godfrey. Sebelumnya Brett bekerja sebagai direktur keuangan Virgin Express dan mempunyai kinerja yang sangat bagus, oleh Richard, Brett dipromosikan sebagai CEO Virgin Express dan menetap di Brussel. Dengan sopan, Brett menolak tawaran itu. Brett menyatakan ingin berhenti dan membawa keluarganya kembali ke kampung halamannya di Australia. Kemudian Richard menyetujui permohonan berhenti Brett seraya berkata:</p>
<p><em><strong>“Jika kau ingin menjalankan usaha di Australia, kabari aku dan kita lihat apa yang bisa kita lakukan bersama”.</strong></em></p>
<p>Salah satu kelebihan Richard adalah mampu melihat potensi dalam diri karyawannya. Jika mereka tidak bisa dipertahankan sebagai karyawan, Ia akan mengajaknya sebagai mitra bisnis. Selang satu tahun berikutnya Brett mengajukan proposal kepada Richard<br />
untuk mendirikan maskapai penerbangan di Australia dan keduanya setuju untuk bermitra. Setelah kesepakatan dibuat, Richard<br />
menyerahkan modal hanya bernilai10 juta dollar Australia. Dengan kemampuan Brett yang luar biasa, serta keinginan yang kuat, keterbatasan modal tidak menjadikan penghalang baginya untuk mendirikan Virgin Blue pada tahun 2000 dan siap berkompetisi<br />
dengan maskapai penerbangan lainnya seperti Ansett, Qantas, Jetblue dll. Kinerja Virgin Blue yang sangat baik mampu mengelitik kompetitor untuk memiliki Virgin Blue. Singapore Airlines mengajukan penawaran resmi untuk mengambil alih Virgin Blue dengan harga 250 juta dolar Australia. Namun Richard menolaknya dan kapitalisasi pasar Virgin Blue tahun 2003 sudah mencapai 2,3 milyar dolar Australia. Kembalinya modal usaha virgin yang berlipat ganda memang mengejutkan, tetapi yang lebih membanggakan<br />
Richard, ketika melihat Brett, rekan pendiri Virgin Blue dan timnya ikut mendapatkan bonus dari kesuksesan Virgin Blue. Brett mendapatkan bagian saham senilai 80 juta dollar Australia dan merupakan salah satu orang Australia terkaya di bawah usia 45 tahun.</p>
<p>Akankah kita memperlakukan karyawan untuk terlibat dalam bisnis sebagai mitra agar kita memperoleh hasil sebagai Brett’s Effect (baca: efek Brett)? Semoga efek Brett dalam Virgin Blue dapat memberikan inspirasi untuk menghasilkan multijutawan baru di Bali. Selamat membaca.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Fbusiness-stripped-bare-adventure-of-global-entrepreneur%2F&amp;linkname=Business%20Stripped%20Bare%20Adventure%20of%20Global%20Entrepreneur"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/business-stripped-bare-adventure-of-global-entrepreneur/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Avatar</title>
		<link>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/avatar/</link>
		<comments>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/avatar/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Feb 2010 08:29:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sneak Peak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.moneynyoumagazine.com/?p=45</guid>
		<description><![CDATA[Film ini bersetting di tahun 2154 dimana sumber energi di bumi telah menipis dan energi alternatif yang sangat berharga telah ditemukan di planet lain, Pandora. Dalam banyak film Holywood sebelumnya, bumi seringkali menjadi sasaran invasi alien dan mahluk angkasa luar lainnya, dalam film ini justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dimotori oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang tamak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Film ini bersetting di tahun 2154 dimana sumber energi di bumi telah menipis dan energi alternatif yang sangat berharga telah ditemukan di planet lain, Pandora. Dalam banyak film Holywood sebelumnya, bumi seringkali menjadi sasaran invasi alien dan mahluk angkasa luar lainnya, dalam film ini justru yang terjadi adalah sebaliknya. Dimotori oleh perusahaan-perusahaan multinasional yang tamak dan militer, bumi melakukan invasi untuk mendapatkan unobtanium- cadangan energy yang berada di Pandora. Dipihak lain terdapat sekelompok ilmuwan yang mengupayakan pendekatan diplomasi untuk mendapatkan simpati dan<br />
berusaha menawarkan barter untuk unobtanium dengan melakukan misi avatar – mengkloning DNA suku Na’vi (penduduk<br />
asli Planet Pandora yang berjarak 1 tahun cahaya dari bumi) dan menghubungkan syarafnya dengan si pengendali<br />
yang disebut avatar. Disinilah muncul tokoh utama Jake (Sam Worthington), veteran perang yang lumpuh, yang memutuskan untuk menjadi avatar.</p>
<p><span id="more-45"></span><a href="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/avatar.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-46" title="avatar" src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/uploads/2010/02/avatar.jpg" alt="" width="200" height="282" /></a>Suku Na’vi digambarkan sebagai sebuah koloni primitif yang mengingatkan kita pada suku tradisional yang memiliki kearifan lokal dan sangat dekat dengan alam. Hal itu yang ditemukan Jake dalam misinya, hal yang ia rasa telah hilang dari bumi dan tanpa sadar ia pun jatuh hati pada puteri pemimpin suku Na’vi, Neytiri. Klimaks film ini terjadi ketika Jake memutuskan untuk tinggal dan berperang bersama penduduk Pandora dan seperti yang anda duga, Pandora memenangkan peperangan ini. Film ini menyuguhkan efek animasi komputer super canggih, bahkan boleh dikatakan menjadi standar baru efek komputer grafik. James Cameron sebagai sutradara sekaligus penulis sangat memperhatikan detail dalam pengerjaan film ini sehingga terkesan tanpa cela.</p>
<a class="a2a_dd addtoany_share_save" href="http://www.addtoany.com/share_save?linkurl=http%3A%2F%2Fwww.moneynyoumagazine.com%2Findex.php%2F2010%2F02%2Favatar%2F&amp;linkname=Avatar"><img src="http://www.moneynyoumagazine.com/wp-content/plugins/add-to-any/share_save_171_16.png" width="171" height="16" alt="Share/Bookmark"/></a>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.moneynyoumagazine.com/index.php/2010/02/avatar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
