Memilih Orang Yang Tepat
Monday, February 1, 2010 10:10Kurang lebih dua bulan lalu kami kedatangan pelanggan yang sedang mengalami masalah dengan rekanan bisnis. Ia bercerita bahwa ia sudah teramat pusing dengan ulah rekanan bisnisnya tersebut. Muncul berbagai masalah dari pembayaran yang tidak ada rincian atau tidak sesuai dengan kesepakatan, kesepakatan penyetoran modal yang tidak dipenuhi dan yang terakhir adalah penarikan dana untuk pembayaran ke supplier yang dihambat, sehingga dia terus-terusan dikejar oleh supplier. Kemudian setelah bercerita, ia bertanya? “Bagaimana ya mengatasi masalah ini dan Bagaimana caranya agar rekanan bisnis saya tersebut berhenti membuat masalah?” “Kalau rekanan bisnis ibu (pelanggan tersebut, red.) kerap menimbulkan masalah baik dengan ibu atau pihak lain,satu hal yang harus ibu lakukan adalah selesaikan secepatnya masalah ini dan jangan bekerjasama lagi dengan orang tersebut. Karena sumber permasalahannya ada pada rekanan bisnis ibu, ada pada karakternya. Ibu telah salah memilih rekanan bisnis, salah memilih orang yang tepat untuk dijadikan rekanan bisnis!”, demikian saran yang kami utarakan. Hal yang sebenarnya terjadi pada ibu tadi adalah kesalahan dalam memilih orang yang tepat untuk diajak bekerjasama. Dan tentang memilih orang yang tepat adalah tantangan bagi kita semua, termasuk bagi perusahaan yang akan merekrut karyawan baru. Bank kami (BPR Lestari, red.) pun pernah salah memilih orang yang tepat untuk bergabung sebagai karyawan. Kami
kerja yang rendah dari bisnis unit tersebut, sampai dengan timbulnya masalah internal tim. Hasil akhir bisa ditebak, tim beserta unit bisnisnya berantakan. Dengan amat terpaksa kami meminta orang yang bersangkutan untuk mengundurkan diri dengan alasan bahwa dia bukanlah orang yang tepat untuk kami dan perusahaan kami pun tidak tepat untuknya. “Memilih orang yang tepat lebih didasarkan kepada karakter bukan kompetensi atau skills”. Kami belajar dari pengalaman dan buku “Good to Great” karya Jim Collins, bahwa orang yang tepat bukan dinilai dari kompetensi atau keterampilannya saja, tetapi juga dari karakter individu tersebut. Karakter-karakter tersebut seperti: apakah calon karyawan tersebut memiliki perilaku mengawasi karyawan-karyawan yang berkarakter tidak baik dan kegiatan untuk menyelesaikan masalah-masalah yang tidak semestinya terjadi. Yang lebih parah lagi, kita akan membuat peraturan-peraturan serta prosedur baru yang semestinya tidak diperlukan hanya untuk menjaga resiko-resiko yang mungkin timbul dari tindakan karyawan-karyawan yang berkarakter tidak baik ini. Dengan kata lain kita membuat peraturan untuk semua orang hanya dikarenakan oleh orang-orang yang berkarakter tidak baik. Jadi, memilih rekanan bisnis dan karyawan prinsipnya sama. Kita harus memilih orang yang tepat dan orang yang tepat lebih didasarkan pada penilaian karakter.


