The Fall of USD

Posted in category Special Feature

An Economic Common Sense ( Part 1 )
Oleh : Alex P Chandra

Baru-baru ini, ketika sedang mengikuti MarkPlus Marketing Conference di Jakarta, saya dihubungi oleh  teman saya, Pak Ismoyo yang menjabat sebagai ketua Bali Vila Association. Pak Ismoyo meminta saya bicara di depan anggotanya dengan topik sederhana, kemana kira-kira arah nilai mata uang USD pada tahun 2010? Sebenarnya pertanyaan klasik seperti ini sudah sering diajukan kepada saya. Hampir setiap terjadi gejolak pasar, nasabahnasabah saya (BPR Lestari red.), teman-teman saya selalu menanyakan hal yang serupa, akankah nilai USD akan turun atau sebaliknya. Setiap kali diajukan pertanyaan demikian, tanggapan saya akan selalu sama, “jika anda bertanya kepada saya, kepada siapa saya bisa bertanya? Dengan kata lain, saya pun tidak tahu jawabannya. Tidak ada yang tahu pasti arah nilai USD. Saya selalu meragukan pendapat segelintir orang yang mengatakan bahwa dalam waktu dekat nilai
USD akan dibawa mencapai nilai Rp. 13.000,-. Siapa yang membawanya? Dan bagaimana caranya? Namun memang ada beberapa kecenderungan yang menarik untuk diamati. Akhir tahun lalu, di penghujung 2008, di puncaknya krisis keuangan global, rupiah terpuruk. Banyak nasabah saya yang mencairkan depositonya untuk berspekulasi membeli dollar Amerika. Pada saat itu, saya mengatakan bahwa saya tetap memegang rupiah. Menurut saya, tidak ada alasan yang logis yang dapat membuat nilai rupiah terpuruk kecuali arus balik modal yang pulang kampung. Setelah arus mudik modal tadi selesai, maka secara otomatis nilai rupiah akan menguat lagi. Secara kebetulan, apa yang saya prediksikan terbukti. Oleh sebab itu, Pak Ismoyo meminta saya kembali memprediksikan nilai tukar mata uang USD terhadap nilai rupiah pada tahun
2010. Dalam rangka menyiapkan presentasi di hadapan anggota Bali Villa Association inilah kemudian saya melakukan riset kecil-kecilan. Bisa saya katakan tidak terlalu ilmiah, hanya mencari dan mengumpulkan data-data dari sumber yang dapat dipercaya. Kemudian saya coba untuk menggabungkan satu sama lain dengan akal sehat sampai saya dapat menarik beberapa kesimpulan. Oleh karena itu, saya beri sub-judul wacana saya, “An Economic Common Sense” (baca: ekonomi yang masuk akal). Kali ini, saya melihat tanda-tanda yang sangat jelas. Seluruh akal sehat saya mendukung suatu kesimpulan dan untuk pertama kalinya saya meneguhkan pendirian yang jelas. Saya akan memihak nilai rupiah, bahkan saya justru memprediksikan bahwa nilai mata uang USD akan jatuh. Itu salah satu alasan mengapa saya memberi judul “The Fall of USD” (baca: jatuhnya nilai mata uang USD), judul yang saya rasa cukup kontroversial untuk anda terima.

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Beliefs, The Power To Create, The Power To Destroy

Posted in category Road To Wealth

Dari segala macam pembahasan mengenai kekayaan, mungkin inilah isu yang paling mendasar, akar dari segalanya, keyakinan atau rasa percaya. Tindakan kita sebenarnya merupakan fungsi dari belief system yang ditanamkan dalam diri kita. Apa yang kita kerjakan dan apa yang tidak semuanya merupakan cerminan dari apa yang kita yakini atau percayai dan apa yang tidak. Brian Tracy dalam bukunya “Getting Rich Your Own Way” mengatakan, “salah satu alasan seseorang tidak menjadi kaya adalah karena tidak pernah terpikirkan olehnya bahwa dia bisa menjadi kaya”. Kenapa tidak pernah terpikirkan? Karena ia lahir dari lingkungan yang biasa-biasa saja, pergi ke sekolah dan bergaul dengan teman-teman yang juga berasal dari keluarga biasa-biasa saja dan sebagainya. Sehingga ia merasa bahwa menjadi kaya bukanlah dirinya. Dan ia meyakini menjadi kaya adalah milik orang lain. “If you believe something is imposibble, it is imposibble for you to achieve that something”, demikian salah satu kutipan dalam buku Brian Tracy, dengan kata lain kutipan tersebut bermakna bahwa jika kita ingin mewujudkan apa yang kita kehendaki hal pertama yang harus kita lakukan adalah meyakini bahwa hal tersebut mungkin utuk diwujudkan. Selama ribuan tahun tidak ada orang yang bisa berlari menempuh 1 mil (setara dengan 1,6 km) dalam waktu 4 menit. Hal tersebut dianggap mustahil dari segi fisik seseorang. Orang pertama yang mampu mematahkan anggapan itu adalah Roger Bannister. Ia mampu berlari menempuh jarak 1 mil dengan catatan waktu 3,59 menit. Setelah semua orang yakin bahwa batasan waktu 4 menit mampu dicapai oleh manusia, ditahun-tahun berikutnya banyak pelari yang mampu berlari menempuh jarak 1 mil dengan batas waktu 4 menit. Saat ini, hampir semua atlit dapat melakukannya dengan sempurna. Contoh kecil seorang Roger Bannister meyakinkan kita bahwa apa yang sebenarnya kita yakini akan menentukan tindakan tindakan kita selanjutnya. Jika kita implementasikan dalam masalah keuangan, ada hal menarik yang patut anda cermati, yaitu keyakinan atau kepercayaan yang berputar di sekitar masalah keuangan dan kekayaan. Hal ini menjadi menarik karena sangat tercermin paradoksnya. Hampir semua orang jika diajukan pertanyaan apakah anda ingin menjadi kaya, secara sadar akan menjawab ‘ya’. Siapa yang tidak ingin kaya? Tentu semua akan menjawab ‘ya’ tanpa terkecuali. Akan tetapi cermati baik-baik apa kepercayaan yang ada dalam pikiran kita tentang uang? Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Optimisme Bali 2010

Posted in category Economic Focus

Perekonomian Bali 2010 masih dibalut optimisme. Usaha mikro kecil menengah (UMKM) menjadi basis ekonomi yang menguatkan Bali.

Berdasarkan analisa Bank Indonesia Denpasar, perekonomian Bali dalam tahun 2010 mendatang  masih akan meneruskan kegairahan yang dicapai pada tahun 2009. “Bali, ekonomi rakyatnya relatif kuta. Kami tetap optimis ekonomi Bali di tahun 2010 akan tetap kuat,” tegas Pemimpin Bank Indonesia Jeffrey Kairupan. Selama tahun 2009, ekonomi Bali menunjukkan pertumbuhan yang cukup baik. Hingga triwulan ke-3 di tahun 2009, pertumbuhan ekonomi Bali mencapai 4,17 persen. “Sebagian besar pertumbuhan ekonomi Bali di ditopang oleh sektor UMKM,” tambah Jeffrey. Keberadaan sektor UMKM di Bali menjadikan ekonomi Bali menjadi kuat karena ditopang ekonomi kerakyatan. Ekonomi Bali yang ditopang oleh bisnis pariwisata, membangun sebuah multiplier effect yang sangat bagus karena digerakkan oleh UMKM. Dilihat dari penyaluran kredit perbankan di Bali, sektor UMKM menguasai sebanyak 80 persen. Sebagian besar diantaranya bahkan usaha kecil, dengan sebagian kecil usaha menengah. Hal ini memberi multiplier effect yang luar biasa bagi perekonomian masyarakat Bali. “UMKM stabil. Ada krisis nggak ada krisis, kayaknya dia anti hujan anti panas,” tambahnya.

Perekonomian Bali memiliki keunikan yang luar biasa dibandingkan daerah lain di Indonesia. Di Kalimantan Timur misalnya, perekonomian sangat ditopang batubara dan kelapa sawit yang notabene dikelola penuh investorinvestor besar. Demikian juga yang terjadi di Papua yang memiliki kekayaan emas, namun dikelola Free Port. “Kalau kita lihat pertumbuhan produk domestik regional
bruto di Papua sangat besar, sampai 15 persen. Tetapi coba kalau angka Free Portnya dikeluarkan, sisanya cuma 2 persen,” ujar Jeffrey. Kondisi tersebut sangat berbeda dibandingkan Bali. Sebagian besar industri pariwisata dan pendukungnya merupakan milik rakyat. “Maka multiplier effect dari perkembangan pariwisata di Bali luar biasa. Kalau di tempat lain banyak orang kaya, tapi banyak miskin. Kalau di Bali, merata. Tidak ada ketimpangan besar antara masyarakat yang miskin dan yang kaya,” ujarnya.

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Merintis dari Desa, Menjangkau Dunia

Posted in category The Interview

Bermula dari sebuah ruang sempit di desa asalnya, Desa Singapadu Kabupaten Gianyar Bali, Putu Sudiarta (34 tahun) kini telah menyebarkan software aplikasi komputer buatannya untuk lembaga-lembaga pendidikan, perkantoran dan bisnis ke seluruh dunia. PT. Bamboomedia Cipta Persada, demikian nama perusahaan yang dirintis Sudiarta sejak tahun 2002 lalu itu. Perusahaan penyedia berbagai software aplikasi komputer itu kini berkantor di sebuah rumah toko berlantai dua di Jalan Merdeka Renon Denpasar, sebuah kantor yang tergolong cukup mewah dibandingkan ketika awal ia merintis usahanya itu di Desa Singapadu. ”Saya tidak pernah menyangka akan bisa sampai di sini,” tegas Sudiarta. Sudiarta menunjukkan sebuah lemari kecil di ruang kerjanya. Lemari itu berisi beberapa disket, telepon rumah, brosur- brosur, CD, kabel internet, beberapa buku serta sebuah hairdryer. “Ini kami sebut memorial box. Dari sinilah Bamboomedia berdiri sampai menjadi seperti sekarang,” ujarnya pria kelahiran 7 Januari 1975 itu.

Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark

Memilih Orang Yang Tepat

Posted in category Growth Strategies

Kurang lebih dua bulan lalu kami kedatangan pelanggan yang sedang mengalami masalah dengan rekanan bisnis. Ia bercerita bahwa ia sudah teramat pusing dengan ulah rekanan bisnisnya tersebut. Muncul berbagai masalah dari pembayaran yang tidak ada rincian atau tidak sesuai dengan kesepakatan, kesepakatan penyetoran modal yang tidak dipenuhi dan yang terakhir adalah penarikan dana untuk pembayaran ke supplier yang dihambat, sehingga dia terus-terusan dikejar oleh supplier. Kemudian setelah bercerita, ia bertanya? “Bagaimana ya mengatasi masalah ini dan Bagaimana caranya agar rekanan bisnis saya tersebut berhenti membuat masalah?” “Kalau rekanan bisnis ibu (pelanggan tersebut, red.) kerap menimbulkan masalah baik dengan ibu atau pihak lain,satu hal yang harus ibu lakukan adalah selesaikan secepatnya masalah ini dan jangan bekerjasama lagi dengan orang tersebut. Karena sumber permasalahannya ada pada rekanan bisnis ibu, ada pada karakternya. Ibu telah salah memilih rekanan bisnis, salah memilih orang yang tepat untuk dijadikan rekanan bisnis!”, demikian saran yang kami utarakan. Hal yang sebenarnya terjadi pada ibu tadi adalah kesalahan dalam memilih orang yang tepat untuk diajak bekerjasama. Dan tentang memilih orang yang tepat adalah tantangan bagi kita semua, termasuk bagi perusahaan yang akan merekrut karyawan baru. Bank kami (BPR Lestari, red.) pun pernah salah memilih orang yang tepat untuk bergabung sebagai karyawan. Kami Read the rest of this entry »

  • Share/Bookmark